Make your own free website on Tripod.com
WawancaraCrisye
Acara '2 tahun mengenang tragedi 12 Mei'  
 

 entrance  

 

 lobby 

 

12 mei 

   Wawancara Crisye 
    
 

 

 

 

 WAWANCARA CHRISYE & ERWIN GUTAWA

By : Astrid ’96 & Imaya FH’96

 

    

 

Malam cerah menggantikan mendung yang menyelimuti kampus A Universitas Trisakti, Grogol, di acara Peringatan 2 Tahun Tragedi 12 Mei. Di pelataran parkir depan gedung Syarief Tajeb tepat di sebelah Monumen Tragedi 12 Mei, yang baru diresmikan pagi harinya, berdiri sebuah panggung sederhana sebagai tempat berlangsungnya acara-acara diskusi pada siang hari.

Puncak acara Peringatan 2 Tahun Tragedi 12 Mei diisi dengan penampilan pembacaan puisi oleh…… dan penampilan Chrisye, Erwin Gutawa beserta kru dengan melantunkan 3 buah lagu yang sangat menyentuh tema acara malam itu, seperti "Ketika Tangan dan Kaki Berbicara", "Lilin-Lilin Kecil" dan "Badai Pasti Berlalu".

Ketika berlangsung acara pembacaan puisi, kru Adhisthana-Net ditemani oleh seorang mahasiswa FH-Usakti, Imaya, mendekati Chrisye dan Erwin Gutawa di ruang Kepresma USAKTI yang sedang bersiap-siap untuk tampil untuk wawancara singkat.

Adhisthana-Net : Mengapa Chrisye dan Erwin mau berpartisipasi dalam acara Peringatan 2 Tahun Tragedi 12 Mei malam ini?

Chrisye : Saya merasa bersimpati terhadap apa yang menimpa ke-4 mahasiswa Usakti 2 tahun yang lalu dan juga terhadap keluarga korban. Dan sebagai artis/ seniman, saya piker inilah hal yang nyata yang bisa saya lakukan, lewat musik saya nyatakan keprihatinan saya terhadap apa yang sebenarnya sedang menimpa negara dan bangsa kita sekarang ini. (Chrisye pun menyatakan simpati yang sedalam-dalamnya pada keluarga korban, yang kebetulan ayah dari Elang salah satu korban tragedy 12 Mei merupakan teman Chrisye).

Erwin : Saya, seperti halnya Chrisye, sebagai orang yang bergerak dibidang musik berharap bisa memberikan sumbangsih kita dan pernyataan simpati kita lewat musik. Di luar itu, saya hanya orang awam, yang kurang mengerti politik dan bagaiman situasi yang terjadi sejak 2 tahun yang lalu secara detail, jadinya yang bisa kita jadikan media untuk menyampaikan keprihatinan kita hanyalah melalui musik.

A-Net : Bagaimana dari diri Chrisye dan Erwin secara pribadi? Adakah sesuatu yang menyebabkan Chrisye dan Erwin mau berpartisipasi?

Chrisye : Saya piker kita sebagai manusia harus melihat dulu kedalam diri masing-masing. Maksudnya ya, coba kita renungkan, kita pikirkan kembali tentang apa yang telah kita perbuat. Apa dampaknya bagi orang lain dan khusunya terhadap diri kita, kita sebagai uamt beragama harus sadar bahwa amal perbuatan kita pasti ada balasannya. Kalau kita lolos dari balasan di dunia pasti sudah menunggu di akhirat balasan untuk segala amal perbuatan kita.

A-Net : Jadi Chrisye kepingin, ya, istilahnya mengingatakan pihak-pihak yang terkait dalam Tragedi 12 Mei’98 tentang hal itu?

Chrisye : Ya, begitulah. Tapi sekali lagi, lewat cara saya, yaitu dengan musik.

A-Net : Bagaimana dengan Erwin?

Erwin : Saya pernah lho jadi mahasiswa(Erwin Gutawa kuliah di Jurusan Arsitektur UI angkatan ’81 dan lulus th.’86.—Red), jadi saya bisa merasakan seperti apa sih perasaan kalian-kalian sekarang ini, saya juga mengerti apa yang kalian pikirkan tentang masalah ini. Saya pikir Chrisye pasti sependapat dengan saya bahwa kebenaran bagimana pun harus ditegakkan.

Chrisye : Ya, dan kita juga berharap bahwa kita bisa mewakili rekan-rekan seprofesi dalam menyampaikan rasa peduli kita dengan cara kita sendiri. Selalu dari itu, secara pribadi saya dan Erwin hanya bisa memberikan dukungan moral serta do’a. Mengenai dukungan dengan cara lain, saya rasa bisa dilakukan oleh orang lain sesuai dengan porsinya masing-masing. Di bidang politik ada kok orangnya, begitu pula di bidang ekonomi, hokum, dan yang lain. Sementara itu saya dan Erwin porsinya yang memang ada di bidang musik.

A-Net : Lalu, bagaimana tanggapannya mengenai pengusutan tragedy ini yang tak kunjung selesai?

Chrisye : Pada prinsipnya kebenaran itu harus dicari dan ditegakkan karena yang terjadi pada 12 Mei 1998 (tertembaknya 4 mahasiswa Usakti.—Red), bukanlah sesuatu yang normal bahkan tidak wajar.

A-Net : Tetapi kan siang tadi Bpk. Tobby Muthis, rector Usakti, sempat menyatakan bahwa kejadian 12 Mei 1998 merupakan sesuatuyang harus diikhlaskan bukannya dituntut. Bagaiman menurut pandangannya?

Chrisye : Yang diikhlaskan adalah yang sudah terjadi. Tapi yang jelas, segala sesuatu pasti ada penyebabnya yang jelas dan rasional. Yang harus ditegakkan itu justru kebenaran yang pasti ada pada penyebab kejadian tersebut, yang justru harus berani untuk dipertanggungjawabkan kepada Yang Di Atas. Itu memang yang harus dituntut. Bukan kejadiannya yang dituntut. Kalau kejadiannya, saya yakin pasti sudah ditakdirkan oleh Tuhan YME, tapi pasti kan ada sebabnya. Kita kan disini bukan menuntut kejadiannya tapi penyebabnya. Apa sebabnya, siapa, bagaiman, disitu justru letaknya tuntutannya.

A-Net : Berkenaan dengan penyelenggaraan acara Peringatan 2 Tahun Tragedi 12 Mei ini, mungkin sebagian orang akan menanggapi acara ini sebagai suatu "perayaan", melihat dari performance-nya, bukan sebagai "peringatan". Bagaiman menurut pendapat Chrisye dan Erwin?

Chrisye : Sebenarnya orang kan bebas berpendapat dan saya yakin pasti ada orang-orang yang melihat apa yang sedang berlangsung sekarang ini sebagi suatu bentuk kemewahan yang rasanya kok kurang pantas ya. Wong, ada kejadian tragis kok malah dirayaka sih? Pasti pertanyaan semacam itu muncul. Tapi kalau menurut pendapat saya, acara semacam ini sih harus dilihat dari intensitas dan isinya. Besar atau kecilnya ya relatif ya. Yang penting acar semacam ini harus diwujudkan menjadi peringatan, dalam arti pengingat atau reminder untuk kita semua bahwa kita jangan berhenti di sini saja. Perjuangan belum selesai. Saya mengharapkan agar acara ini bisa menjadi perintis gerakan moral untuk Indonesia Baru.

Erwin : Tragedi 12 Mei ’98 adalh peristiwa paling penting yang tidak bisa dilupakan. Adanya peringatan ini hanyalah media saja. Tentang pendapat orang ya, pasti ya akan ada yang berpandangan begitu (bahwa ini perayaan bukan peringatan). Untuk itu harus ada effort agar penyelenggaraan acara peringatan TDM ini tidak berkesan demikian.

A-Net : Untuk Erwin, sebagai mahasiswa UI, apakah ada di UI peringatan ttt untuk mengenai peristiwa yang menimpa Arief Rahman Hakim?

Erwin : Tidak ada. Yang ada hanya masjid Arif Rahman Hakim yang sekaligus sebagai bangunan monumental di kompleks UI.

A-Net : Apakah Erwin sebagai mahasiswa angkatan’81 bisa merasakan keterkaitan dengan peristiwa Arif Rahman Hakim?

Erwin : Terus terang saja tidak. Karena jarak antara terjadinya penembakan Arif Rahman Hakim dengan masuknya saya di UI kan sudah jauh, jadinya saya hanya sekedar tahu saja, tidak ikut merasakan. Sama seperti anda-anda di sini. Saya rasa, anda dalam menyelenggarakan acar Peringatan 2 Tahun Tragedi 12 Mei ini pasti merasakan sekali esensinya dan keterkaitannya dengan anda. Karena mereka adalah teman-teman anda sendiri, dan mungkin sebagian dari anda mengikuti jalnnya kejaian tersebut. Untuk mahasiswa-mahasiswa angkatan mendatang mungkin hanya tahu tentang tragedy ini saja. Dan berkaitan dengan acara ini pada saat sekarang dan tahun-tahun berikutnya sebagai sebuah peringatan, adalah bagaiman caranya agar ada kesinambungan dari tahun ketahun supaya esensi dari Peringatan Tragedi 12 Mei ’98 tersebut tetap bisa diresakan oleh mahsiswa-mahasoswa angkatan mendatang.

A-Net : Lagu apa saja yang akan dibawakan nanti dan bagaimana keterkaitannya dengan acara ini?

Chrisye : "Lilin-Lilin Kecil", "Ketika Tangan dan Kaki Berbicara" dan "Badai Pasti Berlalu". Ketiga lagu tersebut sangat erat kaitannya dengan acara peringatan ini.

A-Net : Ketika Chrisye mengadakan konser Badai Pasti Berlalu beberapa bulan yang lalu, di sana Chrisye kan mengatakan bahwa Lilin-lin Kecil akan dipersembahkan untuk keempat kawan, korban Tragedi 12 Mei, sedangkan sepertinya lagu Lilin-Lin Kecil lebih cocok bila ditujukan untuk anak-anak kecil sebagai generasi penerus bangsa. Bagaiman menurut Chrisye?

Chrisye : Memang pada awalnya konteks lagu Lilin-Lilin Kecil lebih cocok dihubungkan dengan kehadiran anak-anak kecil sebagai generasi penerus bangsa seperti contohnya saya menunjukkan hal tersebut ketika konser tahun’94(Chrisye mengajak anak-anaknya pada konser untuk berperan sebagai lilin-lilin kecil mewakili anak-anak seluruh bangsa….Red). Tetapi ketika tragedy 12 Mei ’98 terjadi kok esensi lagu ini juga terasa pas dengan peristiwa tersebut, dengan harapan bahwa keempat korban tragedy tersebut bisa menjadi lilin-lilin kecil sebagai penerang/ pemberi semangat perjuangan untuk mencapai Indonesia Baru.

A-Net : Bagaimana dengan kedua lagu lainnya?

Chrisye : Lagu "Badai Pasti Berlalu" pada awalnya merupakan semacam soundtrack dari film"Badai Pasti Berlalu" di tahun 1977. Tema film ini sendiri adalah percintaan. Tapi bila kita melihat lagu dari isi lirik yang ada, sebenarnya bukan hanya berkenaan dengan percintaan. Justru apa yang sedang melanda negara kita dan bangsa kita sekarang ini yang kita pandang sebagai "badai" yang kita harapkan segera berlalu.

Erwin : Walaupun berbeda konsep dengan lagu Badai Pasti Berlalu soundtrack dari film Teguh Karya tapi kita bisa melihat bahwa lagu ini bisa mewakili keadaan yang menimpa Indonesia pada saat ini yang jelas diharapka cepat berlalu.

A-Net : Apakah menurut Chrisye dan Erwin "Badai"-nya telah berlalu? Atau mungkin agak mereda?

Chrisye : Belum, sama sekali belum. Tragedi 12 Mei ini adalah baru merupakan ujung tombak dari perubahan Indonesia, perubahan zaman di Indonesia.

Erwin : Sama sekali belum berlalu. Untuk itu kita memperjuangkannya dan dalam memperjuangkannya itulah kita memerlukan itikad baik dari semua pihak untuk memyelesaikannya secara tuntas. Kita harus menyatukan visi, mudah-mudahan penampilan kita malam ini bisa membantu untuk menyatukan visi.

A-Net : Kembali pada adanya kesan orang yang berpendapat bahwa acara ini seperti suatu perayaan dengan hadirnya Chrisye dan Erwin, bagaiman tanggapan Chrisye dan Erwin?

Chrisye : Kita dan teman-teman hadir di sini kan untuk mendukung peringatan dan memberi semangat untuk terus berjuang. Kita juga hadir karena diundang oleh Bpk………(Dekan FH UsaktI--Red). Mestinya orang sudah bisa menilai acara ini dilihat dari lagu-lagu yang akan kita bawakan. Terus terang saja kalau ada orang yang datang ke sini(ke kampus A Usakti Grogol --Red) hanya untuk melihat penampilan kita ya sangat kita sayangkan ya. Soalnya kita hadir karena kita peduli.

Erwin : Hadirnya kita kan hanya merupakan bagian dari keseluruhan acara atau kegiatan yang saya rasakan perlu diadakan secara intens atau terus-menerus untuk mengingatkan bahwa tragedy 12 Mei ’98 adalah peristiwa penting yang tidak bisa begitu saja dilupakan. Rasa peduli kita juga otomatis juga bisa dilihat dari 3 lagu yang akan dibawakan kok.

A-Net : Bagaiman kalau orang-orang meminta lagu-lagu tambahan?

Chrisye : Maaf ya bukannya kita tidak mau, tapi kalu kita nyanyikan lagu yang lain pasti akan menjadikan penampilan kita tidak klop dengan konteks acara ini. Jadinya maaf ya, kita tidak bisa.

Erwin : Ya kita tidak bisa melenceng dari tema acara karena acara peringatan macam ini cukup sensitif ya. Maaf ya, saya pikir kita tidak bisa menampilkan lagu lain.

adhisthananet©2000